Banner

Minggu, 15 Mei 2011

cerpen Q

Heru ku, gomennasai…

Di sekolah,

“ Hai Ru,” kataku

“ Hai Rilly,” jawabnya sambil mencium keningku

“ Tumben kamu dateng pagi- pagi. Biasanya agak telat,” kataku menyindirnya

“ Yeeee, enak aja kamu bilang kayak gitu !!” balasnya

“ Uuuuh sayang, pagi- pagi udah marah,” kataku

“ Sindiran kamu tuh nusuk banget tauuuu!!!” katanya sambil memasang wajah masam

“ Eh, eh kok gitu sih? Lho kok marah? Jangan gitu Heru, jangan gitu Heru,” sambil kunyanyikan lagu itu untuk membuatnya tersenyum

“ Gimana ya?”

“ Cieeee, sok ngambek. Eh, kamu tau gak, kalo kamu cemberut mirip itu, aktor terkenal ,,, aduh, aku lupa namanya siapa…” kata ku sengaja hanya ingin membuatnya penasaran

“ Siapa?’ tanyanya

“ Ituloh, pet- nya si Josh yang di Air Bud. Inget gak?” aku pun sambil tertawa melihat Heru kebingungan

“ Oooh, jadi kamu bilang aku si Buddy? Kamu tuh ya,,,” katanya sambil mengejarku.

Kami pun saling kejar- kejaran. Anak 1 sekolahan ngeliatin aja. Heru, dia adalah pacarku . sudah 1 tahun 8 bulan kami pacaran. Mungkin gaya pacaran kami sering di bilang aneh. Kadang kami kejar- kejaran, marah- marahan, ngamuk- ngamukan. Bisa di bilang hubungan kami awet. Kami jarang berantem. Tapi sekali berantem, lamanya bukan main. Oia, ada 1 hal yang paling aku suka dari dia. Dia itu CUEK, tapi pengertian. Gimana ya bilangnya, gak tau deh. Dia bukan tipe cowok pencemburu. Dia sabar banget ngehadepin aku yang agak bawel ini. Dia juga pemain basket. Dia adalah cowok sempurna yang aku lihat dengan kedua mata aku.

Ntah berapa lama lagi dia ada di sisiku, menemaniku, menghiburku, menjadi tempat tangisku, entah… aku gak tau sama sekali. Yang pasti, sampai dia pergi, aku bakalan nemenin dia terus. Aku janji !!! sebenarnya, dia kena tumor otak. Aku takut kehilangan dia. Kalau aku disuruh milih, aku lebih pengen tumor otak itu aku yang kena, bukan dia. Kalau aku boleh minta, aku pengen tukar posisi jadi dia. Tapi gak bisa.

Selama ini, dia selalu ikut pengobatan dimana pun orangtuanya minta. “Heru, I believe that the miracle will come to you.” Kata hatiku. Oh Tuhan, jadikan waktu- waktu dan saat- saat terakhir ini berarti dan jadi kenangan terindah buat aku dan buat dia. Oh Tuhan, bila perlu, Kau tukarkan nyawaku untuk Heru ku, karena aku gak mau dia pergi. Biarlah aku yang pergi, biarlah aku yang sakit. Oh Tuhan, untuk sekali ini saja dalam seumur hidupku.

Aku tau dia sakit tumor otak karena dia yang bilang. Dia jujur. Tapi dia bilang akan berusaha sembuh untuk aku walaupun itu mustahil. Aku selalu berusaha untuk buat dia bahagia di saat- saat terakhirnya. Dan ternyata, aku melanggar janji ku. Aku, Rilly, jatuh cinta pada seorang cowok. Aku, Rilly, gak bisa mempertahankan janjiku untuk selalu setia padanya. Aku, Rilly, yang tergoda dengan senyum seorang cowok yang bernama Saddam. Saddam, biasa di panggil Adam, dia teman sekelasku. Entah apa yang membuatku jatuh cinta kepadanya.

Tapi aku berusaha menahan perasaanku, aku tak mau ada yang terluka karena aku mencintai dua orang sekaligus. Aku rasa salah jika aku lebih memilih Saddam untuk hatiku karena aku tau dia tak pernah menyukaiku bahkan mencintaiku.

Akhirnya, suatu hari di bulan September, Heru tau kalau aku suka sama orang lain. Dia tau hal itu karena waktu istirahat sekolah Saddam lewat di depan ku, aku gak sengaja mengucapkan 3 kata yang pasti orang- orang terkejut mendengarnya. ‘Aku cinta Saddam’. Kuucap kata itu dengan suara pelan. Ternyata Heru tepat berada di belakangku dan mendengar hal itu. Dia pergi, dan aku mengejarnya. Entah, aku tak tau, berapa lama lagi aku harus berbohong dan mencintai 2 orang.

Esoknya, dia gak datang sekolah. Aku mencari informasi tentang dia. Tak ada yang tau. Aku terus berusaha. Aku pun mendapat sms dari mama Heru yang mengatakan bahwa dia ada di rumah sakit. Aku pun pergi kesana setelah pulang sekolah. Aku melihat keadaannya. Sekarat. Itu yang dapat ku katakan. Bibirnya biru, wajahnya pucat. Aku meneteskan air mata melihat keadaannya. Oh Tuhan, semua salahku membiarkannya mendengarkan hal itu. Tuhan, beri aku kesempatan. Aku berdoa untuknya. Heru, maafkan aku. Aku menyesal.

***

Sudah 2 bulan Heru di rawat. Tapi tak kelihatan perkembangan. Dokter hampir menyerah. Setiap hari aku ke rumah sakit untuk menjenguknya. Malam ini tepat pergantian tahun. Aku lebih memililh bersamanya. Aku menangis mengingat kejadian waktu itu. Andai saja aku tak mengatakannya. aku mencium keningnya. Tanpa ku sadari, Heru menggerakkan tangannya. Kemudian membuka matanya. Aku bahagia dan mengajaknya bicara.

“ Heru, ini Rilly.” Aku mencoba mengingatkannya

“ Hmmm,” katanya

“ Ru, maaf,” kataku masih mengeluarkan air mata

“ Gak apa kok Ly. Aku… aku pasti terganti dalam hati kamu” katanya agak terbata- bata.

“ Ru, itu gak bener. Orang yang paling aku cinta itu kamu. Gak ada yang lain,” aku meyakinkannya. Tapi dia hanya tersenyum.

“ Udah, kamu istirahat aja Ly. Aku sayang kamu.” katanya. Karena aku juga lelah, aku tidur. Aku tau dia belum tertidur. Dia membelai rambutku. Aku makin menyesal pernah mencintai Saddam.

***

Heru belum sembuh. Sudah hampir 4 bulan dia di RS. Dia gak pergi sekolah. Seperti biasa, aku selalu menjenguknya. Hari ini, dia di perbolehkan berjalan- jalan. Dia duduk di kursi roda. Aku membawanya ke taman.

“ Udah lama aku gak main basket,” tuturnya.

“ Kalau kamu sembuh, pasti main basket lagi. Kayak biasanya, aku pasti bakalan ngelap keringat kamu,” aku tersenyum sambil mengingat saat dia latihan basket dulu.

“Rilly, kamu tau gak seberapa besar cinta aku ke kamu sampai-sampai gak ada niat untuk mencintai cewek lain selain kamu?“ Tanya Heru.

“ Gak tau,” aku pun sambil berfikir, pasti dia nyindir aku.

“ Yang pasti, lebih besar dari dunia, lebih dalam dari samudra, lebih tinggi dari langit , pokoknya melebihi apapun” ungkaonya.

“…..” aku terdiam. Lalu aku mengingat sesuatu. Aku pun mengalihkan pembicaraan.

“ Kalo cinta kamu sebesar itu, kamu tau gak, besok hari apa?“tanya ku

“ Mana aku tau. Aku kan gak liat-liat kalender, sayang…..”jawabnya.

“ Hmm, besok tanggal 6 Februari 2009.”

“ Oooh, jadi?“

“ Ya udah deh kalau kamu gak ingat! Kita balik ke kamar kamu, yuk“ ajakku dengan kesel. Aku kecewa dia tak mengingat besok hari apa.

***

Keesokan harinya, aku pergi ke rumah sakit. Aku terkejut. Aku melihat kamar dimana Heru dirawat, ternyata dihiasi. Di atas meja ada kue tart dan lilinnya berbentuk angka 17 dan ada 1 tart lagi yang lilinnya berbentuk angka 2. aku heran. Aku melihat Heru berdiri dari tempat tidurnya. Dia mengajakku berdansa, tanpa musik. Aku pun berdansa dengannya. Dia tersenyum, aku juga. Siang itu kami sangat bahagia. 17 melambangkan umurku, 2 melambangkan 2 tahun kami jadian.

Tapi, tepat pukul 5 sore, saat aku mau pulang kerumah untuk ganti pakaian, aku mendengar dia berteriak kencang. Aku segera kembali lagi. Ternyata, kepalanya. Dokter segera datang dan membawanya ke ruang ICU. Aku takut. Sambil menangis aku berdoa. Orangtuanya pun menangis. Kami menunggu, menunggu, dan menunggu. Suara teriakan Heru berhenti. Aku berfikir pasti dia sudah tak kesakitan lagi.

Akhirnya, dokter keluar dan mengatakan bahwa Heru pergi, untuk selamanya. Pikiranku tak tentu arah. Aku jatuh…dan tak tau apa lagi yang terjadi. Setelah sadar, aku terbangun, masih dengan ingatan ku beberapa saat lalu. Aku diberi tau bahwa aku pingsan setelah mendengar tentang kepergian Heru. Akupun berlari segera mencari dimana orangtua Heru. Ku temukan mereka masih menangis melihat Heru di ruang ICU. Aku tak tahan lagi. Lalu teman-teman ku dan Heru berdatangan. Termasuk juga Saddam.

“ Ly, … Rilly, ini, surat dari Heru. Aku gak tau kenapa dia nitip ke aku. Semalam, aku disuruh datang kesini. Eh, ternyata kamu udah pulang ganti baju. Ya udah, dia nitip ke aku. Oia, kamu yang tabah ya,” kata Saddam. Lalu dia pergi. Aku membaca surat itu.

Rilly, sayangku…

Maaf, aku membuatmu harus menungguku di RS selama 4 bulan. Kamu tau kenapa surat ini aku kasi ke dia? Itu karena dia yang bisa menggantikan aku. Aku yakin dia orang tepat. Dan… sayang ya,,, harus berakhir sampai disini. Happy birthday sayang… I love you, Aishiteru, Amore, Litua, Jisue, Wo I Ni, apa aja deh. Yang penting aku cuma bisa minta maaf karena harus ninggalin kamu. Kamu adalah jiwaku. Maaf karena aku gak bisa lagi ada di sisimu. Love you.

Heru

Aku pun menangis. Aku menyesal mengucapkan kata-kata yang seharusnya tak ku ucapkan itu. Sampai kapanpun aku gak akan bisa ngelupain Heru. Heru,,, I LOVE YOU.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar